Monday, 16 July 2018


------------------------------------------------------------------------
IV.    Keselamatan Anugerah Allah dalam Isa Al-Masih
-------------------------------------------------------------------------
Seberapa besarpun usaha kita agar dapat masuk dalam sorga Allah, semua adalah sia-sia. Allah yang Maha Suci tidak akan berkompromi dengan dosa. Kitab Suci Allah menuliskan, “ 
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri ” (Injil, Surat Efesus 2:8-9). (15)
Allah yang Maha Tahu mengerti betapa manusia membutuhkan keselamatan sorgawi. Itulah sebabnya, Allah memberi anugerah keselamatan bagi manusia di dalam Isa Al-Masih. Allah rindu, setiap manusia dapat diselamatkan dari kebinasaan. Dan inilah janji Isa Al-Masih akan hal itu, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, Ia mempunyai hidup yang kekal [bukan ‘Insya Allah’](16)  dan tidak turut dihukum sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Injil, Rasul Besar Yohanes 5:24). (17)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(15)     Memegahkan diri” maksudnya sombong, takabbur, tidak mau bertaubat, bangga dalam kemusyrikan, kemunafikan, kekafiran, kemurtadan. Bangga dalam Dosa.
 (16)     “InsyaAllah” itu,  asal kalimat nya adalah seperti ini: (إِنْ شَآءَ اللهُ )
Artinya: “Jika dikehendaki Allah”.
Memang seorang Muslim tidak dibenarkan memastikan sesuatu peristiwa atas usahanya sendiri, misalnya dengan mengatakan: “itu pasti saya kerja besok”. Tetapi kepastian itu harus disandarkan kepada Allah Swt; karena penentuan terakhir adalah DIA. Maka kata “pasti” harus digantikan dengan ucapan “insyaa’allah”. Hal itu telah membudaya di kalangan Muslim. Logikanya, “insyaAllah” = “Pasti”; maka makna kata “bukan Insya Allah” = “bukan pasti”.  Kalau dipahami dari bahasa Injil yang anda paparkan, maka maknanya sebagai berikut: ....Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, Ia mempunyai hidup yang kekal [bukan ‘Pasti’] ..... ini kan bahasa kacau.
Oleh karena itu, anda janganlah lancang memasukkan istilah itu dalam suatu tanda kurung (......) dengan tambahan kata “bukan”, menyebabkan pengertian ayat injil itu menjadi kacau.
Ada dua maksud yang dapat dipahami dari kelancangan serta keteledoran anda itu.
*Yang pertama:
Anda bersikap anggap-remeh, terhadap kalimat tersebut karena sudah menjadi tradisi kaum Muslimin. Sikap anggap-remeh demikian berlawanan dengan azas Pancasila. Anda tidak punya rasa terimakasih tinggal di Wilayah Indonesia. Atau memang anda bukan penduduk asli Indonesia  ??  
*Yang kedua
Sikap anda itu berlawanan dengan maksud injil, (Surat Efesus 2:8-9), yang anda sendiri paparkan diatas. Sikap demikian itulah yang dinamakan “memegahkan diri”. Dalam Bahasan Daerah Palu disebut: NATAMEME.
(17) “Pindah dari dalam maut ke dalam hidup”, hanya anda sendiri yang tahu. Kalimat yang ganjil ini kalau dikaitkan dengan Surat AlFatihah maka itu adalah HOAX. Kalimat ini tidak ada sama sekali kaitannya dengan ALFATIHAH. Semoga Allah memberi Hidayah pada anda.