------------------------------------------------------------------------
IV. Keselamatan Anugerah Allah dalam Isa
Al-Masih
-------------------------------------------------------------------------
Seberapa besarpun usaha kita
agar dapat masuk dalam sorga Allah, semua adalah
sia-sia. Allah yang Maha Suci tidak akan berkompromi dengan dosa. Kitab Suci
Allah menuliskan, “
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh
iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil
pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri ” (Injil, Surat
Efesus 2:8-9). (15)
Allah yang Maha Tahu mengerti betapa manusia membutuhkan
keselamatan sorgawi. Itulah sebabnya, Allah memberi anugerah keselamatan
bagi manusia di dalam Isa Al-Masih. Allah rindu, setiap manusia dapat
diselamatkan dari kebinasaan. Dan inilah janji Isa Al-Masih akan hal itu, “Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya
kepada Dia yang mengutus Aku, Ia mempunyai hidup yang kekal [bukan
‘Insya Allah’](16) dan tidak turut
dihukum sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Injil,
Rasul Besar Yohanes 5:24). (17)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(15) “Memegahkan diri” maksudnya sombong,
takabbur, tidak mau bertaubat, bangga dalam kemusyrikan, kemunafikan,
kekafiran, kemurtadan. Bangga dalam Dosa.
(16) “InsyaAllah” itu, asal kalimat nya adalah seperti ini: (إِنْ شَآءَ اللهُ )
Artinya: “Jika dikehendaki
Allah”.
Memang seorang Muslim tidak
dibenarkan memastikan sesuatu peristiwa atas usahanya sendiri, misalnya dengan
mengatakan: “itu pasti saya kerja besok”. Tetapi kepastian itu harus
disandarkan kepada Allah Swt; karena penentuan terakhir adalah DIA. Maka kata
“pasti” harus digantikan dengan ucapan “insyaa’allah”. Hal itu telah membudaya
di kalangan Muslim. Logikanya, “insyaAllah” = “Pasti”; maka makna kata “bukan
Insya Allah” = “bukan pasti”. Kalau
dipahami dari bahasa Injil yang anda paparkan, maka maknanya sebagai berikut: ....Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan
percaya kepada Dia yang mengutus Aku, Ia mempunyai hidup yang kekal [bukan ‘Pasti’] ..... ini kan bahasa kacau.
Oleh karena itu, anda janganlah
lancang memasukkan istilah itu dalam suatu tanda kurung (......) dengan
tambahan kata “bukan”, menyebabkan pengertian ayat injil itu menjadi kacau.
Ada dua maksud yang dapat dipahami dari kelancangan serta
keteledoran anda itu.
*Yang
pertama:
Anda bersikap anggap-remeh,
terhadap kalimat tersebut karena sudah menjadi tradisi kaum Muslimin. Sikap
anggap-remeh demikian berlawanan dengan azas Pancasila. Anda tidak punya rasa
terimakasih tinggal di Wilayah Indonesia. Atau memang anda bukan penduduk asli
Indonesia ??
*Yang kedua
Sikap anda itu berlawanan dengan
maksud injil, (Surat Efesus 2:8-9), yang anda sendiri paparkan diatas. Sikap
demikian itulah yang dinamakan “memegahkan diri”. Dalam Bahasan Daerah Palu
disebut: NATAMEME.
(17) “Pindah dari dalam maut ke dalam hidup”, hanya anda
sendiri yang tahu. Kalimat yang ganjil ini kalau dikaitkan dengan Surat
AlFatihah maka itu adalah HOAX. Kalimat ini tidak ada sama sekali kaitannya
dengan ALFATIHAH. Semoga Allah memberi Hidayah pada anda.